Selama ini mungkin yang kita ketahui, kepanjangan TPA adalah Tempat Pembuangan Akhir. Sebenarnya dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, dijelaskan bahwa TPA adalah Tempat Pemrosesan Akhir, yaitu tempat untuk memproses dan mengembalikan sampah ke media lingkungan secara aman bagi manusia dan lingkungan.

Keberadaan TPA di suatu daerah sangatlah penting, namun pengelolaan dengan cara konvensional yaitu dengan menimbun segala jenis sampah, dapat membuat TPA menjadi cepat penuh. Sementara mencari lahan untuk membuka TPA baru tidaklah mudah.

Pada prinsipnya sebelum berakhir di TPA, sampah seharusnya diolah secara maksimal sesuai dengan jenisnya. Proses pemilahan sampah tetap menjadi prioritas utama dalam pengelolaan sampah, sehingga TPA tidak menanggung beban yang berat dalam permasalahan sampah.

TPA di Kabupaten Probolinggo yaitu TPA Seboro mempunyai 4 aktivitas rutin untuk penanganan sampah yaitu pemilahan, daur ulang dengan pengomposan dan budidaya maggot, serta penimbunan sampah di lokasi pengurugan.

TPA Seboro beroperasi sejak tahun 1993 dan telah dilakukan perluasan pada tahun 2012. Sampah yang masuk ke TPA Seboro rata-rata sekitar 60 ton/hari. Berdasarkan perhitungan pada Detailed Engineering Design (DED), batas pemakaian TPA Seboro diperkirakan hanya sampai tahun 2023.

Kegiatan pemilahan dan pengolahan sampah yang dilakukan di TPA Seboro saat ini merupakan salah satu upaya untuk mengurangi jumlah sampah yang akan ditimbun. Namun seiring dengan meningkatnya timbulan sampah dan aktivitas penimbunan sampah setiap harinya, saat ini TPA Seboro menjadi semakin penuh dan mendekati batas akhir masa pakainya.

Untuk memperpanjang masa pakai TPA Seboro sekaligus mengatasi permasalahan sampah, diperlukan strategi pengurangan dan pemanfaatan sampah pada sumber sampah.