Plastik adalah salah satu jenis sampah yang membutuhkan ratusan tahun untuk bisa terurai. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, disebutkan bahwa 16% dari total timbulan sampah nasional adalah sampah plastik. Indonesia merupakan negara kedua penghasil sampah plastik di laut yaitu sebesar 1,29 Juta ton/tahun.

Kampanye 3R (Reduce, Reuse dan Recycle) menjadi pilihan yang sederhana namun efektif untuk menekan laju penambahan sampah, khususnya sampah plastik. Terutama pada momen Idul Adha ini dihimbau agar pembagian daging qurban tidak menggunakan kantong plastik. Berikut alternatif wadah daging qurban yang sekaligus bisa digunakan untuk kegiatan sehari-hari:

  1. Besek

Besek bisa menjadi salah satu alternatif wadah makanan karena sifatnya yang ramah lingkungan. Adanya rongga di antara anyaman besek membuat pengemasan makanan menjadi lebih segar karena terjadi sirkulasi udara yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri dalam daging. Besek bisa dibuat dari bambu, daun pandan dan daun kelapa.

  1. Dedaunan

Dedaunan seperti daun pisang, daun jati, dan daun-daun sejenis. Wadah ini mudah diuraikan dengan proses alamiah karena merupakan bahan organik sehingga tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.

  1. Kotak Bekal Makanan (Food Container)

Food container juga bisa dipakai berulang kali. Sehabis dipakai untuk wadah daging kurban, tinggal dicuci untuk digunakan lagi.

  1.  Tas pakai ulang (Reusable bag)

Penggunaan tas pakai ulang bisa menghemat penggunaan ratusan kantong plastik. Bahan tas pakai ulang bisa terbuat dari kain atau kertas.

  1. Bioplastik

Bioplastik adalah plastik atau polimer yang secara alamiah dapat dengan mudah terdegradasi baik oleh mikroorganisme maupun oleh cuaca (kelembaban dan radiasi sinar matahari). Bioplastik terbuat dari sumber biomassa seperti minyak nabati, amilum jagung, klobot jagung atau singkong. Bioplastik bisa menjadi alternatif pengganti plastik konvensional karena sifatnya yang mudah terurai.

  1. Biofoam

Biofoam merupakan kemasan alternatif pengganti styrofoam, berasal dari bahan alami berupa pati ubi kayu atau enceng gondok dengan tambahan serat untuk memperkuat strukturnya. Dengan demikian produk ini tidak hanya bersifat mudah terurai (biodegradable) tetapi juga dapat diperbarui (renewable). (P2KLH 8/8/19)