Sumberasih 2018, Pulau Gili Ketapang yang luasnya kurang lebih 61 Ha akhir-akhir ini  mulai banyak dikenal oleh masyarakat luas karena panorama alam baharinya yang indah dan pemandangan alam bawah lautnya oleh keberadaan terumbu karang, menjadikan Pulau Gili Ketapang  berkembang menjadi  lokasi destinasi wisata baru berupa wisata snorkling.

                Pada peringatan hari Bumi tanggal 22 April 2018 ini, pantai Gili Ketapang dijadikan lokasi  penyelenggaraan event kegiatan dengan tajuk Coastal & underwater Clean-up, yaitu kolaborasi kegiatan yang digelar oleh Forum CSR Jawa Timur, Pemkab Probolinggo dan para pemerhati  lingkungan, antara lain berupa kegiatan bersih-bersih pantai dari sampah plastik baik di daratan dan di area terumbu karang yang ada di dasar laut  Gili Ketapang. Dalam waktu singkat  telah terkumpul sampah plastik sebanyak 1 perahu besar atau + 690 Kg.

                Dengan penyelenggaraan event Coastal & underwater Clean-up di Pantai Gili Ketapang tersebut, cukup memberikan harapan besar dapat memberikan impact yang positif bagi stake holders dan masyarakat luas menarik perhatian dan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan di Pulau Gili Ketapang.

                Di balik keindahan dan eksotis alamnya, kebersihan lingkungan dan kelestarian terumbu karang yang ada, kondisinya masih memperihatinkan. Kebiasaan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, diketahui masih banyak yang membuang sampah secara sembarangan, hewan ternak seperti kambing dilepas dan dibiarkan berkeliaran ke semua tempat. Demikian pula terhadap kondisi terumbu karang, banyak  bangunan-bangunan fisik masyarakat  menggunakan  material batu dari terumbu karang.

                Sementara  itu dari aspek Global sebagaimana wilayah pantai lainnya di dunia, sesungguhnya Pulau Gili Ketapang merupakan lokasi yang sangat rawan dari ancaman dampak pemanasan global atau Global warming. Ancaman tersebut berupa bencana lingkungan, seperti terjadinya rob, abrasi, gelombang pasang dan bencana lingkungan lainnya sampai dengan kemungkinan hilangnya permukaan daratan. Ancaman tersebut semakin besar manakala budaya dan perilaku masyarakatnya tidak ramah lingkungan serta belum ada pelaksanaan kebijakan terkait adaptasi  dan mitigasi  dampak perubahan iklim.

                Meningkatnya jumlah kunjungan masyarakat yang berswisata ke Pulau Gili Ketapang, belum sebanding dengan perhatian dan partisipasi masyarakat ikut menjaga kelestarian lingkungannya. Gugusan terumbu karang yang sering dinamakan dengan gugusan karang “katon” di Pulau Gili Ketapang, luasan kerusakannya semakin kini makin luas,  baik akibat dari adanya eksploitasi maupun akibat oleh banyaknya sampah yang ada di dasar laut serta akibat aktifitas nelayan yang tidak ramah  terhadap kelestarian terumbu karang.

                Terumbu karang adalah merupakan satu sub ekosistem pesisir pantai yang unik, kompleks dan tinggi produktifitasnya. Keberadaannya  hanya akan bisa tumbuh oleh adanya gugusan karang dan tersedianya sinar matahari yang cukup.

                Untuk mengetahui secara langsung kondisi terumbu karang atau gugusan karang “ katon “ yang ada di Pulau Gili Ketapang serta dalam rangka upaya menjaga kelestarian dan pengedalian dari kerusakan lingkungan, maka Pemerintah Daerah melalui Dinas Lingkungan Hidup setiap tahun melakukan monitoring terumbu karang. Namun, monitoring terumbu karang tersebut hanya dilakukan sebatas  pada satu titik lokasi area tranplantasi terumbu karang  saja, tidak secara menyeluruh terhadap kondisi karang “ katon ” yang ada di Pulau Gili Ketapang, demikian penjelasan disampaikan Kepala Seksi Pengendalian Lingkungan Hidup pada DLH Kabupaten Probolinggo, Sugeng Haryono, ST, MM usai  melaksanakan monitoring bersama Tim pada hari Selasa tanggal 15 Mei 2018. Kegiatan monitoring Terumbu Karang yang dilakukan adalah merupakan salah satu bagian dari tindak lanjut atas   kegiatan transplantasi terumbu karang yang dilaksanakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup melalui DLH Kabupaten Probolinggo pada tahun 2015.

                Pada pelaksanaan monitoring ini, Tim monitoring menggunakan 1 perahu munuju titik lokasi perairan yang berada di bagian timur  Pulau Gili Ketapang yang tidak jauh dari mercusuar atau nama lokasi bagian daratannya dikenal masyarakat dengan nama Goa Kucing. Monitoring dilakukan dengan cara pengamatan langsung baik  melalui snorkling maupun diving.

                Dengan menerjunkan 4 orang divers,  pelaksanaan kegiatan monitoring  tidak semata-mata melakukan pengamatan saja, para divers  sekaligus melakukan tindakan perawatan terumbu karang, diantaranya berupa pembersihan sampah, mengikat gugus karang yang lepas, dan mengganti gugus karang baru untuk mengganti karang yang rusak atau mati.

Fokus monitoring hanya ditujukan  untuk mengetahui progress perkembangan hasil transplantasi, progress sementara hasilnya masih memperihatinkan. Pertumbuhan dan perkembangannya belum sesuai harapan.

Banyak ditemui  bagian dari gugus karang, kondisinya rusak /mati atau lepas dari rumah balok-balok pengikatnya. Terdapat banyak sampah  berserakan menutup bagian-bagian karang, begitu juga tali, jala banyak yang nyangkut  di area transplantasi terumbu karang.

Meskipun demikian, diketahui telah banyak ikan berbagai jenis  mendiami disela-sela karang yang tumbuh.

DLH akan terus berupaya melakukan monitoring dan evaluasi terhadap progress pertumbuhan dan perkembangan terumbu karang hasil transplantasi,  untuk penyelamatan lingkungan lebih lanjut. Tentunya kedepan tidak akan mungkin mampu dilakukan DLH sendirian. Perlu kepedulian dan kebersamaan dari  berbagai pihak dalam menjaga merawat dan mengembangkannya.

Ayo ambil bagian untuk penyelamatan karang Pulau Gili Ketapang dari ancaman kerusakan. Sayangi Bumi, Bersihkan dari Sampah !! (Bid.P2 24/518).