Pemborosan pangan menjadi isu yang banyak mendapatkan perhatian publik. Food and Agricultural Organization (FAO) memperkirakan bahwa sekitar 1/3 dari makanan yang diproduksi untuk konsumsi, hilang atau terbuang dengan berbagai alasan. Sementara di sisi lain masih banyak orang yang kekurangan makanan.

Mengurangi sampah makanan sangat penting untuk pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) yaitu SDG 2. Menghilangkan kelaparan dan SDG 12. Menjamin Pola Produksi dan Konsumsi yang berkelanjutan.

Berikut adalah alasan mengapa perlu mengurangi atau bahkan menghilangkan kebiasaan membuang makanan:

  1. Sampah makanan menghasilkan gas metana

Sampah makanan yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dan mengalami pembusukan, akan menghasilkan gas metana yang menyebabkan efek rumah kaca. Gas Rumah Kaca (GRK) berkontribusi terhadap terjadinya perubahan iklim. Pengomposan sampah makanan dapat menurunkan jumlah emisi GRK yang dilepaskan ke atmosfer.

  1. Membuang air

Ketika makanan terbuang sia-sia, hal tersebut berarti semua energi dan air yang telah digunakan untuk pertumbuhan, pemanenan, pengangkutan, dan pengemasan juga terbuang sia-sia.

  1. Merusak tanah

Lahan yang digunakan terus menerus untuk produksi pangan, apabila tidak dirawat akan mengalami penurunan produktivitas dan kehilangan kemampuan dalam memproduksi makanan.

  1. Membahayakan biodiversitas

Untuk memproduksi makanan, banyak flora dan fauna alami yang musnah akibat penggunaan lahan. Misalnya kegiatan alih fungsi lahan atau penangkapan ikan besar-besaran. Hal ini bisa mengakibatkan berkurangnya flora dan dan fauna dan berdampak pada penurunan keanekaragaman hayati.

Dengan fakta-fakta di atas diharapkan dapat menyadarkan kita agar lebih bijak dalam mengelola makanan. Perkirakan dengan baik jumlah makanan yang kita perlukan, cermat dalam mengolah makanan dan membeli makanan sesuai kebutuhan agar tidak ada lagi yang terbuang.