Dalam rangka pemantauan kualitas air pada sumber air yang berada di Kabupaten Probolinggo, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Probolinggo melakukan pengambilan sampel air di Sungai Besi dan Sungai Gending pada Kamis (06/02/20).

Sebelumnya telah dilakukan pengambilan sampel air pada Sungai Pancarglagas dan Sungai Kandangjati (04/02/20) serta di Sungai Pekalen dan Sungai Kertosono (05/02/20). Pemantauan kualitas air permukaan ini dilakukan di sungai yang berpotensi mengalami pencemaran.

Untuk mengetahui kualitas air sungai, harus ada pengujian laboratorium terhadap kualitas air dengan parameter fisika, kimia dan biologi. Data hasil uji dapat digunakan sebagai salah satu referensi dalam evaluasi dan pengambilan kebijakan pembangunan di daerah. Dari 26 sungai besar yang ada di Kabupaten Probolinggo, baru dapat dilaksanakan sampling kualitas air pada 6 sungai, dengan titik sampling di hulu, tengah dan hilir.

Baku Mutu Air (BMA) parameter ujinya mengacu pada Peraturan Pemerintah RI nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Adapun parameter uji meliputi: parameter fisika yaitu temperatur, parameter kimia anorganik yaitu derajat keasaman (pH), Biological Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), Dissolved Oxygen (DO), Total Suspended Solid (TSS), Total Dissolved Solid (TDS), fosfat total dan nitrat. Untuk parameter kimia organik yaitu minyak, lemak dan detergen, sedangkan parameter mikrobiologi yaitu fecal coliform dan total coliform.

Berdasarkan hasil monitoring kualitas air sungai tahun 2019, parameter yang melebihi baku mutu lingkungan adalah jumlah fecal coliform dan total coliform. Bakteri coliform merupakan mikroorganisme indikator untuk mengetahui suatu perairan tercemar oleh aktivitas domestik dan peternakan.

Pada keadaan normal, coliform terdapat di dalam air dalam jumlah yang standar dan dapat diukur. Namun dalam kondisi air tercemar, maka jumlah coliform akan meningkat bahkan melebihi jumlah bakteri pathogen lain.

Penanggulangan pencemaran air sungai dapat dilakukan secara non teknis dan secara teknis. Non teknis, yaitu dengan mengurangi dan menanggulangi pencemaran lingkungan diantaranya membuat peraturan perundang-undangan yang dapat merencanakan, mengatur dan mengawasi segala macam bentuk kegiatan industri dan teknologi sedemikian rupa sehingga tidak terjadi pencemaran lingkungan.

Sedangkan upaya penanggulangan secara teknis dapat dilakukan dengan mengelola limbah dengan cara pengolahan awal, pengolahan lanjutan dan pengolahan akhir.