Pemerintah Kabupaten Probolinggo menerima penghargaan Pembina Program Kampung Iklim (ProKlim) terbaik se-Indonesia Tahun 2019. Penghargaan tersebut diserahkan oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan diterima oleh Wakil Bupati Probolinggo Drs. H.A. Timbul Prihanjoko pada puncak peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) Tahun 2019, yang bertempat di Lahan Konservasi Universitas Brawijaya (UB) Forest, Desa Sumbersari Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang, pada Minggu (17/11/2019).

Turut mendampingi Wakil Bupati Probolinggo, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Ahmad Hasyim Ashari, Kepala Bidang Pemeliharaan Lingkungan Hidup DLH Sentot Triadi Sugiharto dan Kepala Seksi Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim, Sutopo.

Kabupaten/Kota di Jawa Timur yang mendapatkan apresiasi Pembina Kampung Iklim Terbaik Tahun 2019, yaitu Kabupaten Probolinggo, Kota Blitar dan Kota Malang. Penghargaan ini diberikan kepada Kepala Daerah dalam peran sertanya untuk mewujudkan penurunan emisi low carbon.

Pada acara tersebut juga dilaksanakan penyerahan Penghargaan Program Kampung Iklim Kategori Utama yang diraih oleh 3 Desa di Kabupaten Probolinggo, yaitu Desa Watupanjang Kecamatan Krucil, Desa Krejengan Kecamatan Krejengan dan Desa Bermi Kecamatan Krucil.

Sedangkan Desa Bhinor Kecamatan Paiton yang juga hadir dalam acara tersebut, telah memperoleh penghargaan Trophy Proklim yang diserahkan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) dalam acara puncak kegiatan Festival Iklim Tahun 2019 di Gedung Manggala Wanabakti Kementerian LHK, Jakarta (02/10/2019).

Rangkaian acara HCPSN yang mengangkat tema “Membangun Generasi Milenial Cinta Puspa dan Satwa Nasional untuk Indonesia Unggul”, diawali dengan peresmian Zona Konservasi Keanekaragaman Hayati Jatim CETTAR yang ditandai dengan pelepasan 7 ekor rusa dan 5 ekor kijang oleh Gubernur Khofifah di lingkungan penangkaran UB Forest. Selain pelepasan kijang dan rusa, juga dilakukan pelepasan 100 ekor burung kutilang ke alam bebas.

Pada kesempatan tersebut, Gubernur Jatim menyampaikan keinginannya untuk mengembangkan penangkaran dan budidaya hewan langka dan dilindungi agar potensi satwa dilindungi di Indonesia tidak terus menurun, tetapi sebaliknya justru jumlahnya bertambah. (PLH)