Dalam rangka inventarisasi kearifan lokal masyarakat Tengger, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Probolinggo melalui Bidang Penataan dan Peningkatan Kapasitas LH melakukan kunjungan lapangan ke Desa Ngadisari Kecamatan Sukapura pada Rabu (04/08/21).

Inventarisasi adalah tahapan awal yang menjadi dasar agar kearifan lokal mendapatkan pengakuan dan perlindungan negara. Kearifan lokal adalah nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat setempat, antara lain untuk melindungi dan mengelola lingkungan hidup dan sumber daya alam secara lestari.

Bentuk kearifan lokal yang ada di masyarakat Tengger yang terkait dengan pengelolaan hutan dan lingkungannya antara lain, pantangan terhadap penebangan pohon cemara di sekitar punden, ritual bersih-bersih di sekitar punden, dan menanam pohon di sekitar sumber air.

Peran masyarakat lokal dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup dengan praktek kearifan lokal, sangat penting untuk kelestarian sumber daya alam dan lingkungan. Perlindungan kearifan lokal dilakukan untuk menjamin kelangsungan kearifan lokal dan keberadaan masyarakat pengampunya, serta terpenuhinya hak dan kewajiban dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

Pengakuan dan perlindungan Kearifan Lokal ditetapkan dalam bentuk Keputusan Menteri atau kepala daerah sesuai dengan kewenangannya. Masyarakat Tengger berada di wilayah lintas daerah kabupaten di Jawa Timur, yaitu Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, sehingga penetapan pengakuan dan perlindungan kearifan lokalnya merupakan kewenangan Gubernur Jatim.

Ketentuan terkait pengakuan dan perlindungan kearifan lokal diatur dalam Peraturan Menteri LHK Nomor P.34/MENLHK/SETJEN/KUM.1/5/2017 tentang Pengakuan dan Perlindungan Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup.

#MasyarakatHukumAdat
#KearifanLokal